BREAKING NEWS

2 Warga Lampia Nekat Blokir Aktifitas Tambang PT CLM, Ada Apa?

Rabu, 5 Februari 2020 | 17:12 WITA
BeritaLutim.com

MALILI, BERITALUTIM.COM- Dua orang warga Desa Harapan, (Lampia) Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, nekat memasuki area pertambangan PT. Citra Lampia Mandiri (CLM).

Dua orang tersebut di ketahui bernama Mayonk dan rekannya Uppi, masuk ke area tambang dengan maksud memblokir aktifitas pertambangan milik PT. CLM pada Selasa (4/2/2020) kemarin.

Upaya pemblokiran yang dilakukan kedua orang ini diketahui sudah dilakukan selama tiga kali, di mana mereka mempersoalkan tentang janji PT. CLM kepadanya untuk di pekerjakan dalam perusahaan tersebut.

“Kami melakukan hal ini selaku masyarakat lokal yang pernah di janji oleh HRD perusahaan ini untuk di pekerjakan, tapi sampai sekarang janji tersebut belum di penuhi” terang Mayonk kepada wartawan, Rabu (05/02/2020).

Menurutnya, dia sudah layak menjadi karyawan di perusahaan tersebut jika di lihat dari sisi pemberdayaan masyarakat lokal khususnya di Desa Harapan.

“Apalagi kami sudah pernah di janji, sementara CLM sendiri sudah melakukan penerimaan karyawan sebanyak 3 kali sesudah kami di janji” tuturnya.

Ia juga mengatakan, bahwa dirinya sempat di pekerjakan, hanya saja selang dua hari pihak perusahaan tiba-tiba memberhentikan secara sepihak dengan dalih, dia (Mayonk) belum terdaftar di Kantor pusat PT. CLM di Jakarta.

Diketahui kini mayonk bekerja di salah satu peusahaan yang masih berada di bawah naungan PT. CLM, yakni PT. Kasturin, hanya saja, kata mayonk, selama 7 bulan bekerja di perusahaan tersebut ia mengaku tidak penah melakukan penandatangan kontrak kerja, apalagi kata dia, namanya tidak terdaftar di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Luwu Timur sebagai karayawan di perusahaan tersebut.

“Harusnya saya sudah terdaftar di Disnaker sejak pertama saya bekerja di perusahaan ini, dan otomatis saya tidak memiliki BPJS. kalau misalnya saya insiden di lokasi kerja bagaimana? Siapa yang memberi kompensasi?” tanyanya.

Menurutnya, hal tersebut telah menyalahi standar prosedur perusahaan yang tidak mendaftarkan karyawannya ke Disnaker,

Parahnya, kata dia, pihak perusahaan juga tidak menyediakan perlengkapan safety yang di berikan kepadanya.

“Sepatu safety yang saya pake bekerja adalah sepatu saya sendiri, begitu juga dengan perlengkapan seperti helmet dan baju kerja” tutupnya.

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
ARTIKEL TERKAIT